Senin, 12 Januari 2009

menajemen trafo

MANAJEMEN TRAFO DISTRIBUSI

Angka kegagalan/ kerusakan trafo yang masih tinggi yaitu berkisar antara 0.34 sampai dengan 5.35 persen dibandingkan total aset trafo pada satu Wilayah Luar Jawa Bali mengindikasikan perlunya review ulang manajemen transformator distribusi.

Risiko akibat kegagalan transformator distribusi tidak hanya pada initial cost yang ditimbulkan tetapi juga pada performance SAIDI/SAIFI yang mempengaruhi kinerja system distribusi secara keseluruhan. Untuk itu perlu adanya program manajemen transformator distribusi yang jelas dan pengendalian yang konsisten oleh pengelola aset sistem distribusi dengan target rasio kegagalan trafo tahun 2009 <>

Hal – hal yang disepakati adalah sebagai berikut :

NO

TOPIK

KESEPAKATAN

JADWAL

KETERANGAN

1.

Data historical mutlak diperlukan untuk perencanaan pemeliharaan dan analisa kegagalan trafo.

Membenahi pengelolaan data base gardu distribusi :

· Daftar Gardu Distribusi dan Trafo Distribusi di kantor PLN Unit pelaksana, yang menunjukkan data spesifikasi trafo, merk, tahun pembuatan, tahun pemasangan, kontraktor pemasang, historical pengoperasian trafo, waktu mutasi, rekondisi, pemeliharaan, pengukuran beban, proteksi primer dan sekunder trafo distribusi.

· Kartu Trafo, terpasang di gardu, yang menunjukkan data historical trafo : waktu pasang, pemeliharaan, pelaksanaan pengukuran beban serta petugas pelaksana dan mutasi.

Triwulan I Tahun 2009

Perlu dipastikan adanya sistem proses validasi/updating sehingga data selalu terbarukan.

Perlu aplikasi Manajemen Trafo Distribusi

Perlu dibuat format secara seragam untuk LJB Minggu ke II Des 2008.

Petugas pelaksana pengukuran-pemeliharaan dibekali form yang juga bermanfaat untuk pengisian data historical trafo

2.

Pengendalian pembebanan trafo dengan pertimbangan efisiensi pembebanannya

A. Menerapkan pengoperasian transformator Distribusi dengan indikator kinerja Manajemen Operasi:

· Unbalance Load max 25 %

· Pembebanan masing-masing phase max 90 %

· maksimum THD 10%.

B. Melaksanakan manajemen pembebanan trafo dengan cara melakukan pengukuran beban riil pada kondisi Waktu Beban Puncak (WBP) , dan jika hasilnya :

< style=""> à dilakukan rotasi

80%-90% à diusulkan pembesaran / sisipan dalam RKAP

>90% à perlu diganti untuk pembesaran/ sisipan

Triwulan I Tahun 2009

Dengan skala prioritas.

Periksa ulang pembebanan trafo setelah dilakukan penyeimbangan fasa.

WBP tergantung beban puncak masing2 daerah pelayanan

3.

Penurunan Susut Trafo Distribusi

Menerapkan pengadaan transformator distribusi sesuai SPLN No D3.002-1:2007 dan implementasi Surat DIREKSI ttg implementasi SPLN Trafo Distribusi

Triwulan I Tahun 2009

Program penekanan susut teknis jaringan

4.

Commissioning dan

Pembuatan BA pada penggantian trafo

Menerapkan prosedur Commissioning Test instalasi trafo distribusi pada gardu distribusi eks pemeliharaan/gangguan sama halnya dengan pada konstruksi baru, kemudian dibuatkan BA commissioning.

Triwulan I Tahun 2009

Perlakuan sama harus diterapkan pada setiap trafo yang akan masuk ke dalam sistem distribusi

5.

Pemeliharaan trafo distribusi dengan konsep pengendalian yang jelas

Menerapkan siklus pemeliharaan terjadwal tetap – time base yang ketat dan meliputi :

· Pemeriksaan minyak trafo : Volume dan nilai tegangan tembus (khusus non Hermatically)

· Pembersihan fisik

· Sistem Proteksi Primer dan Sekunder

· Pengencangan konektor

· Pengukuran beban trafo

· Perbaikan sistem pentanahan

· Pemeriksaan Tap changer Trafo

· Ventilasi gardu

Jadwal pemeliharaan periodik minimum tiap gardu beton adalah 18 bulan dan gardu portal 24 bulan.

Triwulan I Tahun 2009

Referensi :

KEPDIR No.074.K.DIR/2008 tentang Pedoman manajemen aset, dan SE Direksi No. 040.E/152/DIR/1999

6.

Optimasi efisiensi pengoperasian trafo dengan pengukuran unjuk kerja dan evaluasi kinerja operasi trafo

Menerapkan Condition Base Maintenance – CBM dimulai dari trafo dengan rating lebih dari 315 kVA atau rating terbesar pada trafo 3 phasa tiap wilayah PLN dengan prosedur test sesuai lampiran 1.

Mulai TW I Tahun 2009

7.

Penciptaan budaya tanggung jawab atas nilai asset dengan mekanisme audit dan sidang enjiniring

PLN Unit Pelaksana membuat laporan kepada Manager Teknik / T & D dilengkapi analisa & evaluasi penyebab kerusakan trafo.

Khusus untuk kegagalan trafo ≥ 315 kVA atau konsumen VIP/khusus (trafo milik PLN) harus di audit khusus dan dipresentasikan pada sidang enjiniring PLN Unit Induk.

Triwulan IV Tahun 2008

8.

Inspeksi rutin dengan program prediktif maintenance.

Melaksanakan Inspeksi visual, mekanik dan elektrik secara rutin khususnya pada trafo konsumen khusus/VIP atau ≥ 315 kVA minimal satu tahun sekali.

Pelaksanaan inspeksi oleh Petugas PLN Unit Pelaksana yang diangkat khusus untuk penugasan ini

Triwulan I Tahun 2009

Referensi :

Surat Direksi PLN

No 0271/041/DIRTND/2008 tgl 31 Januari 2008

9.

Menekan gangguan trafo rekondisi

Mengevaluasi hasil trafo rekondisi yang ada dilapangan sebelum pelaksanaan order ulang khususnya yang dilakukan oleh provider jasa rekondisi trafo non PLN Jasa Produksi.

Triwulan IV Tahun 2008

PLN unit perlu meneliti persentase kegagalan trafo rekondisi

Perlu dibuat kesepakatan JP dengan Manajer Wilayah LJB

10.

Mengamankan Trafo Distribusi dari pemasangan JTR dan pentanahan yang tidak standar

Memperbaiki konfigurasi JTR per gardu sesuai desain kriteria/ SPLN

Triwulan IV Tahun 2008

11.

Pengendalian ratio kegagalan/ kerusakan trafo.

1. Membuat analisis penyebab ( Root Cause Analysis ) untuk tiap kejadian gangguan trafo.

2. Membuat statistik bulanan gangguan trafo per kelompok kVA, per Merk, per Cabang.

Triwulan I Tahun 2009

Lampiran 1

Prosedur Test

Pengukuran unjuk kerja Transformator distribusi

untuk CBM

  1. Pengukuran unjuk kerja trafo sebagai indikator effisiensi pengelolaan trafo wajib dilaksanakan secara periodik sebagai upaya pencegahan terjadinya kegagalan operasi yang berimplikasi kerugian financial perusahaan serta citra kwalitas pengelolaan asset sistem distribusi di mata konsumen.
  2. Hasil analisa pengukuran unjuk kerja trafo ini sebagai awal penetapan tindak lanjut program pemeliharaan, rekondisi trafo atau dasar penetapan reject trafo tersebut dari sistem distribusi.
  3. Secara teknis, pengukuran performance trafo distribusi dilaksanakan lengkap melalui pengukuran unjuk kerja :

I. Kelistrikan & manajemen operasi

    1. Trafo Type Full Hermatically :

a. Dilakukan secara Online :

      1. Pengukuran beban setiap fasa (I fasa <>
      2. Ketidakseimbangan beban ( maksimum 25 % ) .
      3. Temperatur terminasi pada WBP (d t <50º>
      4. Temperatur trafo ( < style=""> C pada thermometer terpasang trafo atau 80 º C pengukuran suhu dinding tangki bagian atas trafo pada beban puncak atau dt < style=""> C; SPLN D3.002-1:2007 Th. 2007)

b. Dilakukan secara Ofline :

1. Tahanan isolasi ( harus >100 MΏ dengan megger 10.000 V)

2. Tahanan belitan (± 1 % dari hasil uji pabrik; NETA 1999)

3. Ratio kumparan (± 0,5 % dari fasa yang lainnya; IEC,SPLN dan ANSI)

    1. Trafo Type Non Hermatically :

a. Dilakukan secara Online :

1. Pengukuran beban setiap fasa (I fasa <>

2. Ketidakseimbangan beban ( maksimum 25 % ) .

3. Temperatur terminasi pada WBP (d t <50º>

4. Temperatur trafo ( < style=""> C pada thermometer terpasang trafo atau 80 º C pengukuran suhu dinding tangki bagian atas trafo pada beban puncak atau dt < style=""> C; SPLN D3.002-1:2007 Th. 2007)

b. Dilakukan secara Ofline :

1. Tahanan isolasi ( harus >100 MΏ dengan megger 10.000 V)

2. Tahanan belitan (± 1 % dari hasil uji pabrik; NETA 1999)

3. Ratio kumparan (± 0,5 % dari fasa yang lainnya; IEC,SPLN dan ANSI)

Khusus untuk test 2.b.2 dan 2.b.3 dilakukan bila hasil test DGA menunjukkan hasil kurang baik.

2.1. Isolasi minyak dan kertas.

      1. Pengujian Isolasi Minyak IEC 60422 th.2005 FIST 3-30
        1. Routine test
          1. Tegangan tembus/2,5 mm (baik >40 kV;sedang 30 – 40 kV; buruk <>
          2. Kadar air (baik <10;>25 ppm).
          3. Warna minyak (baik =clear; buruk= dark)
          4. Kadar keasaman (<>0,2 mg KOH/g)
          5. Faktor kebocoran dielektrik ( tan delta) (<>0,5)

Bila hasil pengukuran rutin test butir 1 & 2 diperoleh indikasi kondisi buruk, minyak transformator tersebut perlu dilakukan refiltering

Bila penguykuran butir 3,4,5, mengindikasikan kondisi buruk, minyak transformator tersebut perlu di reklamasi atau di ganti

        1. Test lengkap

Yaitu pelaksanaan Routine test ditambah pengukuran Sedimen (maks 0,02 %) dan Tegangan interfacial tension (IFT) ( > 28mN/m; 22-28;<>

Test lengkap dilaksanakan bila rutin test butir 1,2,3,4,5 ada indikasi abnormal / buruk dan diindikasikan minyak tersebut adalah minyak oplosan/palsu

      1. Dissolved Gas Analysis (DGA):

Analisa komposisi gas yang diukur dari kandungan minyak trafo hasil taping dari tangki transformator distribusi untuk gas Hidrogen, Metane, Carbon monoksida, Carbon dioksida, Ethane, Ethylen, Acethylen, akan digunakan sebagai referesi program predictive pemeliharaan trafo lebih lanjut setelah mendapatkan kondisi DGA trafo hasil pengukuran sesuai lampiran 1.1

Pada kondisi 1 transformator tersebut dapat terus dioperasikan; sedang untuk kondisi 2 perlu dicermati kecendrungan komposisi gas tersebut dengan melaksanakan pengukuran ulang setelah periodic waktu tertentu.

Untuk Kondisi 3 dan 4, perlu segera diambil langkah-langkah manajemen untuk rekondisi atau mengeluarkan transformator tersebut – reject dari sistem distribusi.

Pelaksanaan DGA ini tidak direkomendasikan pada transformator distribusi tipe Full Hermatically.

      1. Furran test (<>

yaitu pengukuran kwalitas kertas isolasi trafo yang dilakukan di laboratorium dan hanya dilakukan bila indikasi DGA negative (CO dan CO2 tinggi atau ratio CO2/CO <>

      1. Degree Polymerisasi (DP) ( > 200 DP)

Hanya dilakukan bila furan nilai tinggi dan trafo direject.. Pengukuran ini diperlukan untuk analisa lebih lanjut kemungkinan transformator tersebut akan di rekondisi.

II. Instalasi / Mekanik

A. Pemeriksaan Visual

a. kebocoran minyak trafo

b. isolator

c. instalasi Pembumian

d. Terminasi

B. Pengukuran tahanan pembumian netral transformator ( maksimum 5 Ohm)

C. Pengukuran kekencangan baut terminasi kabel pada isolator. Dan pengamatan infra-red saat beban puncak.. Batas suhu maksimum yang dipersyaratkan 80 C (IEC Standard)

D. konstruksi instalasi – sesuai ketentuan standard konstruksi

4. Pelaksanaan pengukuran unjuk kerja transformator distribusi pada sistem distribusi harus diupayakan dapat dilaksanakan tanpa mengeluarkan dari sistem distribusi – on line..

5. Penerbitan Sertifikasi Laik Operasi - SLO hanya dapat dilaksanakan kalau seluruh hasil indikasi pengukuran unjuk kerja transformator Distribusi tersebut adalah normal. Kalau status pengukuran dibawah normal , SLO tidak boleh diterbitkan dan trafo hrs diuji ulang selang waktu 1 s/d 3 bulan untuk rekomendasi manajemen agar transformator tersebut dapat terus dioperasikan atau dikeluarkan dari sistem untuk di rekondisi atau di reject

Lampiran 1.1

Lampiran 1. 2



1 komentar:

  1. Mohon refferensi dari SPLN, IEC, IEEC dll.
    Keseimbangan Beban (%)
    Unbalance Arus (%)
    Unbalance Tegangan (%)
    Over Voltage Upper (%)
    Over Voltage Under (%)
    Temperatur Trafo
    Power Faktor Sistem (PF)
    Harmonisa Arus Trafo
    Harmonisa Tegangan Trafo

    BalasHapus